SEJARAH SINGKAT & BIOGRAFI SYEKH NAWAWI TANARA AL BANTANI AL JAWI

IMAM

SEJARAH SINGKAT & BIOGRAFI SYEKH NAWAWI TANARA AL BANTANI AL JAWI

A. Kelahiran dan Pendidikan

1. Kelahiran

Di kalangan pesantren salaf, nama Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi
sangat kesohor. Disebut al-Bantani (dengan ejaan Arab), oleh karena ia berasal
dari Banten, Indonesia.Para santri terutama di Jawa, menyebut Ulama Besaryang
hidup satu setengah abad silam itu sebagai Nawawi Banten. Ia bukan ulama biasa,
tapi memiliki intelektual yang sangat produktif menulis kitab, meliputi fiqih,
tauhid, tasawwuf, tafsir, hadis. Jumlahnya tidak kurang dari 115 kitab.
Dalam Ensiklopedia al-Munjid yang ditulis pada awal abad XX oleh Louis
Ma’luf, hanya ada dua namaorang Indonesia yang tercantum di dalamnya, yakni
Soekarno dan Nawawi Banten. Nama Syeikh Nawawi juga tercantum dalam
Dictionary of Arabic Printed Books terbitan Kairo karena dianggap pengaruh
beliau yang cukup besar bagi perkembangan Islam di Indonesiapada awal abad
XIX.
Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin
‘Arabi.Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yangsangat kuat. Konon
ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa,
Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa
Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syeikh Nawawi Bantani) pada
tahun 1230 H atau 1813 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin
Imam Nawawi al_Jawi/www.mnurinside.blogspot.com 2
Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-11 dari Sultan Banten. Nasab
beliau melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Melalui
keturunan Maulana Hasanuddin yakni Pangeran Suniararas, yang makamnya
hanya berjarak 500 meter dari bekas kediaman beliaudi Tanara, nasab Ahlul Bait
sampai ke Syeikh Nawawi. Ayah beliau seorang Ulama Banten, ‘Umar bin
‘Arabi, ibunya bernama Zubaedah.
2. Pendidikan
Semenjak kecil beliau memang terkenal cerdas. Otaknya dengan mudah
menyerap pelajaran yang telah diberikan ayahnya sejak umur 5 tahun. Pertanyaanpertanyaan kritisnya sering membuat ayahnya bingung. Melihat potensi yang
begitu besar pada putranya, pada usia 8 tahun sang ayah mengirimkannya
keberbagai pesantren di Jawa. Beliau mula-mula mendapat bimbingan langsung
dari ayahnya, kemudian berguru kapada Kyai Sahal, Banten; setelah itu mengaji
kepada Kyai Yusuf, Purwakarta.

Di usia beliau yang belum lagi mencapai 15 tahun, syeikh Nawawi telah
mengajar banyak orang. Sampai kemudian karena karamahnya yang telah
mengkilap sebelia itu, beliau mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa
mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Pada usia 15 tahun
beliau menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah,
seperti Syeikh Khâtib al-Sambasi, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni,
‘Abdul Hamîd Daghestani, Syeikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syeikh Ahmad
Dimyati, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan, Syeikh MuhammadKhatib Hambali. Tapi
guru yang paling berpengaruh adalah Syeikh Sayyid Ahmad Nahrawidan Syeikh
Ahmad Dimyati,ulama terkemuka di Mekah. Lewat kedua Syeikh inilah karakter
beliau terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar
mengubah alam pikirannya, yaitu Syeikh Muhammad Khâtibdan Syeikh Ahmad
Zaini Dahlan,ulama besar di Medinah.

B. Nasionalisme dan Gelar-gelar

1. Nasionalisme

Tiga tahun bermukim di Mekah, beliau pulang ke Banten. Sampai di tanah
air beliau menyaksikan praktek-praktek ketidakadilan, kesewenang-wenangandan
penindasan dari Pemerintah Hindia Belanda. Ia melihat itu semua lantaran
kebodohan yang masih menyelimuti umat. Tak ayal, gelora jihadpun berkobar.
Beliau keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Tentu saja
Pemerintah Belanda membatasi gara-geriknya. Beliau dilarang berkhutbah di
masjid-masjid. Bahkan belakangan beliau dituduh sebagai pengikut Pangeran
Diponegoro yang ketika itu memang sedang mengobarkan perlawanan terhadap
penjajahan Belanda (1825- 1830 M).
Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsipprinsip keadilan dan kebenaran, apa boleh buat Syeikh Nawawi terpaksa
menyingkir ke Negeri Mekah, tepat ketika perlawanan Pangeran Diponegoro
padam pada tahun 1830 M. Ulama Besar ini di masa mudanya juga menularkan
semangat Nasionalisme dan Patriotisme di kalangan Rakyat Indonesia. Begitulah
pengakuan Snouck Hourgronje. Begitu sampai di Mekah beliau segera kembali
memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Beliau tekun belajar selama 30
tahun, sejak tahun 1830 hingga 1860 M. Ketika itu memang beliau berketepatan
hati untuk mukim di tanah suci, satu dan lain hal untuk menghindari tekanan
kaum penjajah Belanda. Nama beliau mulai masyhur ketika menetap di Syi’ib
‘Ali, Mekah.Beliau mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma
puluhan, tapi makin lama makin jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari
berbagai penjuru dunia. Maka jadilah Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi sebagai
ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih,
tafsir, tasawwuf.
Nama beliau semakin melejit ketika beliau ditunjuk sebagai pengganti
Imam Masjidil Haram, Syeikh Khâtib al-Minagkabawi. Sejak itulah beliau dikenal
dengan nama resmi ‘Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi.’ Artinya Nawawi dari
Banten, Jawa. Piawai dalam ilmu agama, masyhur sebagai ulama. Tidak hanya di
kota Mekah dan Medinah saja beliau dikenal, bahkan di negeri Mesir nama beliau
masyhur di sana. Itulah sebabnya ketika Indonesia memproklamirkan
kemerdekaannya. Mesir negara yang pertama-tama mendukung atas kemerdekaan
Indonesia.
Syeikh Nawawi masih tetap mengobarkan nasionalisme dan patriotisme di
kalangan para muridnya yang biasa berkumpul di perkampungan Jawa di Mekah.
Di sanalah beliau menyampaikan perlawanannya lewat pemikiran-pemikirannya.
Kegiatan ini tentu saja membuat pemerintah Hindia Belanda berang. Tak ayal,
Belandapun mengutus Snouck Hourgronje ke Mekah untuk menemui beliau.
Ketika Snouck –yang kala itu menyamar sebagai orangArab dengan nama ‘Abdul
Ghafûr- bertanya “Mengapa beliau tidak mengajar di Masjidil Haram tapi di
perkampungan Jawa?” Dengan lembut Syeikh Nawawi menjawab: “Pakaianku
yang jelek dan kepribadianku tidak cocok dan tidak pantas dengan keilmuan
seorang professor berbangsa Arab”. lalu kata Snouck lagi: ”Bukankah banyak
orang yang tidak sepakar seperti anda akan tetapi juga mengajar di sana?” jawab
Syeikh: “Kalau mereka diizinkan mengajar di sana, pastilah mereka cukup
berjasa.”
Dari beberapa pertemuan dengan Syeikh Nawawi, Orientalis Belanda itu
mengambil beberapa kesimpulan. Menurutnya, Syeikh Nawawi adalah Ulama
yang ilmunya dalam, rendah hati, tidak congkak, bersedia berkorban demi
kepentingan agama dan bangsa. Banyak murid-muridnya yang di belakang hari
menjadi ulama, misalnya K.H.Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdhatul Ulama),
K.H.Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), K.H.Khalil Bangkalan,
K.H.Asnawi Kudus, K.H.Tb.Bakrie Purwakarta, K.H.Arsyad Thawil, dan lain-
lainnya. Konon, K.H.Hasyim Asy’ari saat mengajar santri-santrinya di Pesantren
Tebu Ireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarîb yang
dikarang oleh Syeikh Nawawi. Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di
hati K.H.Hasyim Asy’ari hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath
al-Qarîbia ajarkan pada santri-santrinya.

Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis
asal Tanara, Banten dan dikaruniai 3 anak: Nafisah, Maryam, Rubi’ah. Sang istri
wafat mendahului beliau.

2. Gelar- Gelar

Berkat kepakarannya, beliau mendapat bermacam-macam gelar. Di
antaranya yang diberikan oleh Snouck Hourgronje, yang menggelarinya sebagai
Doktor Ketuhanan. Kalangan Intelektual masa itu juga menggelarinya sebagai alImam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang
sangat mendalam). Syeikh Nawawi bahkan juga mendapat gelar yang luar biasa
sebagaia al-Sayyid al-‘Ulama al-Hijâz (Tokoh Ulama Hijaz). Yang dimaksud
dengan Hijaz ialah Jazirah arab yang sekarang ini disebut Saudi Arabia.
Sementara Para Ulama Indonesia menggelarinya sebagai “Bapak Kitab Kuning
Indonesia.”

C. Wafat, Karya-karya dan Karamah

1. Wafat

Masa selama 69 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru Umat Islam
telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah Umat
Islam. Syeikh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M.
Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M.
Makamnya terletak di pekuburan Ma΄la di Mekah. Makam beliau bersebelahan
dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abû Bakar al-Siddîq, Asma΄ binti
Abû Bakar al-Siddîq.

2. Karya-karya

Kepakaran beliau tidak diragukan lagi. Ulama asal Mesir, Syeikh ‘Umar
‘Abdul Jabbâr dalam kitabnya “al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi alMasjidil al-Harâm” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan
Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syeikh Nawawi sangat produktif
menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih, meliputi berbagai disiplin
ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syeikh Nawawi diantaranya adalah
sebagai berikut:

al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah
al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn
Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh
wa al-Tasawwuf
al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâhal-Dîn
Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân
al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin
al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd
Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ
al-Kawâkib al-Jaliyyah
Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdahal-‘Awwâm
Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji
Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm
Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah
‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah
Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman

al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb alTashrîfiyyah
al-Riyâdl al-Fauliyyah
Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.

Karya tafsirnya, al-Munîr, sangat monumental, bahkan ada yang
mengatakan lebih baik dari Tafsîr Jalâlain, karya Imâm Jalâluddîn al-Suyûthi dan
Imâm Jalâluddîn al-Mahâlliyang sangat terkenal itu. Sementara Kâsyifah al-Sajâ
syarah merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safînah al-Najâ,
karya Syeikh Sâlim bin Sumeir al-Hadhramy. Para pakar menyebut karya beliau
lebih praktis ketimbang matan yang dikomentarinya. Karya-karya beliau di bidang
Ilmu Akidah misalnya Tîjân al-Darâry, Nûr al-Dhalam, Fath al-Majîd.
Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya
beliau di bidang Ilmu Fiqihyakni Sullam al-Munâjah, Niĥâyah al-Zain, Kâsyifah
al-Sajâ. Adapun Qâmi’u al-Thugyân, Nashâih al-‘Ibâd dan Minhâj al-Raghibi
merupakan karya tasawwuf.
Ada lagi sebuah kitab fiqih karya beliau yang sangat terkenal di kalangan
para santri pesantren di Jawa, yaitu Syarah ’Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-5
Kiai Muhammad Syafi’i Hadzami, Majmu’ah Tsalâtsa Kutub Mufîdah
Zaujain. Hampir semua pesantren memasukkan kitab ini dalam daftar paket
bacaan wajib, terutama di Bulan Ramadhan. Isinya tentang segala persoalan
keluarga yang ditulis secara detail. Hubungan antara suami dan istri dijelaskan
secara rinci. Kitab yang sangat terkenal ini menjadi rujukan selama hampir
seabad. Tapi kini, seabad kemudian kitab tersebut dikritik dan digugat, terutama
oleh kalangan muslimah. Mereka menilai kandungan kitab tersebut sudah tidak
cocok lagi dengan perkembangan masa kini. Tradisi syarah atau komentar bahkan
kritik mengkritik terhadap karya beliau, tentulah tidak mengurangi kualitas
kepakaran dan intelektual beliau.

3. Karamahnya

Konon, pada suatu waktu pernah beliau mengarang kitab dengan
menggunakan telunjuk beliau sebagai lampu, saat itu dalam sebuah perjalanan.
Karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung unta,
yang beliau diami, sementara aspirasi tengah kencang mengisi kepalanya. Syeikh
Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya
dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Kitab yang
kemudian lahir dengan nama Marâqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah itu harus dibayar beliau dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya
yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri beliauitu membawa bekas yang tidak
hilang.
Karamah beliau yang lain juga diperlihatkannya di saat mengunjungi salah
satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah
seorang keturunan cucu Rasulullah saw Sayyid Utsmân bin ‘Agîl bin Yahya al-‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang ibukota Jakarta)
, itu ternyata
memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu
adalah Sayyid Utsmân sendiri. Tak ayal , saat seorang anak remaja yang tak
dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsmân. Diskusi pun
terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap berpendirian
kiblat Mesjid Pekojan sudah benar. Sementara Syeikh Nawawi remaja
berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraihkarena
masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syeikh Nawawi
remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsmân. Dirapatkan tubuhnya agar
bisa saling mendekat.
“Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah!
Tidakkah Ka΄bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak kekiri.
Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepatmenghadap ke Ka΄bah.”Ujar
Syeikh Nawawi remaja.
Habib ‘Utsman bin ‘Aqil bin ‘Umar bin Yahya dilahirkan di Pekojan, Jakarta pada
tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1238 H/ 1822 M. Ibunya bernama Aminah binti Syeikh ‘Abdurrahman
bin Ahmad al-Mishri, putri seorang ulama dari Mesir. Habib ‘Utsman bermukim di Makkah
selama 7 tahun. Guru-guru beliau diantaranya ayahnya sendiri, Habib ‘Abdullah bin ‘Aqil bin
Yahya dan seorang Mufti Syafi’iyyah di Makkah, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Pada tahun 1848
beliau berangkat ke Hadramaut menuntut ilmu kepada sayyid ‘Alwi bin Saggaf al-Jufri dan Sayyid
Hasan bin Shaleh al-Bahr. Dari Hadramaut berangkat lagi ke Mesir dan belajar di Kairo selama 8
bulan. Perjalanan menuntut ilmu dilanjutkan lagi ke Tunis, Aljazair, Istanbul, Persia dan Syria.
Setelah itu beliau kembali lagi ke Hadramaut.
Habib ‘Utsman adalah pengarang kitab yang sangat produktif. Hal ini dikemukakan oleh
L.W.C Van Den Berg (1845-1927) di dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia dengan judul Hadramaut dan koloni Arab di Indonesia(1989). Ia telah mencatat bahwa
Habib ‘Utsman memiliki 38 karya, 11 buah karyanya ditulis dalam Bahasa Arab, sedang sisanya
disusun dalam Bahasa Melayu. Buku tersebut diterbitkan di Betawi pada tahun 1886 M, ketika itu
Habib ‘Utsman masih hidup dan masih terus menghasilkan karya-karyanya.
Beliau pada tahun 1862 M/ 1279 H selepas dari hadramaut pulang ke Betawi dan
menetap di Pekojan. Kemudian diangkat menjadi Mufti Betawi menggantikan Syeikh Abdul
Ghani. Hingga wafat pada tahun 1331 H/ 1913 M.
Sayyid Utsmân termangu. Ka΄bah yang ia lihat denganmengikuti telunjuk Syeikh
Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsmân merasa takjub dan
menyadari , remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai
kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah itu, di manapun
beliau berada Ka΄bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsmân
langsung memeluk tubuh kecil beliau. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi
Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudibahwa orang yang telah
dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat
kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya.
Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur
yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus
silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat
atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan
tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syeikh Nawawi. Setelah kuburnya
genap berusia satu tahun,datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali
kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu
tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah
satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tandatanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain
putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan
mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti,
sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam
orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang
membongkar makam tersebut. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti
sediakala. Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma΄la, Mekah.
Demikianlah karamah Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah
organisme yang hidup di dalamnya sedikitpun tidak merusak jasad beliau. Kasih
sayang Allah Ta’ala berlimpah pada beliau. Karamah Syeikh Nawawi yang paling
tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsîr Munîr
yang beliau karang. Kitab Tafsir fenomenal ini menerangi jalan siapa saja yang
ingin memahami Firman Allah swt. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab
fiqih, Kâsyifah al-Sajâ, yang menerangkan syariat. Begitu pula ratusan hikmah di
dalam kitab Nashâih al-‘Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus
menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tanganbeliau.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s